Demi uang sebesar Rp30.000, ribuan orang di di Jl Wahidin Pasuruan rela berdesak-desakkan dan mengakibatkan 21 orang tewas.
Makin jelas bagi kita, seperti apa rupa kemiskinan yang terjadi di negeri ini. [Kompas]
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Sesungguhnya dari Allah kita berasal dan kepada Allah jua kita kembali.
Inilah pengingatan dari sekian banyak pengingatan yang telah Allah berikan kepada bangsa ini.
Sungguh nurani kita menjerit, betapa kaum lemah dinegeri ini benar-benar tiada berdaya. Ditengah negeri yang menghijau, beraneka ragam sumber daya melimpah, bumi gemah ripah loh jinawi… saudara kita harus meregang nyawa hanya untuk uang sebanyak 3 bungkus rokok.
Inilah peringatan bagi para pemimpin dan para calon pemimpin negeri ini, termasuk pula kita, karena setiap kita adalah pemimpin..bahwa mereka belum bisa menjadikan yang lemah mampu tegak menopang dirinya sendiri.
Teringat salah satu kebaikan Bpk Soeharto, terlepas dari kekurangan lainnya, adalah betapa beliau berpandangan maju untuk menjadikan rakyat mampu tegak di atas kakinya. Kambing banpres, sapi banpres … adalah sesuatu yang riil, yang mampu menjawab tantangan Allah akan arti sebuah usaha, selemah apapun dirinya.
Sungguh beda dengan BLT , kata mertua saya muncul dari kebiasaan saudagar JK, yang mendidik rakyat menjadi pengemis. Membuat sang pemberi tersenyum bangga seolah sudah melepaskan tanggung jawab, sementara bukannya masalah menjadi selesai tetapi justru bertambah-tambah.
Rakyat lemah tidak butuh belas kasihan… karena memang hidup mereka bergelut dengan kesedihan, sudah tahan banting mereka.
Rakyat lemah butuh dukungan untuk mereka mampu bernafas dengan tangan dan usaha mereka sendiri.
Teringat masa kuliah dulu, ketika pernah mencoba untuk meneliti
Keluarga sederhana perajin tempe hanya butuh modal 75 ribu untuk memutar usahanya…selama satu minggu (2 x siklus pembuatan). Bayangkan hanya sama dengan harga celana yang kita pakai mereka bisa menghidupi keluarga selama satu minggu…
Dan ketika diberi modal 150 ribu usaha mereka mampu bertahan dan tumbuh hingga sekarang.
Subhanallah, pemberdayaan inilah yang semestinya sekarang ini semua orang pikirkan
Bisakah kita?





September 18, 2008 pukul 5:57 am |
ya bener. ini introspeksi bersama. sungguh, sebuah pembelajaran yg sangat mahal dg nyawa manusia sbg taruhannya. semoga semua pihak terkait dan berkompeten di bidang masing2 semakin terbuka hati & akal pikirannya. semoga bagi yg tertimpa musibah dilimpahkan kesabaran dan kemudahan. semoga kita semua diberi kebesaran jiwa & makin peka pada sesama. amin..
September 18, 2008 pukul 8:02 am |
wew…. memang itulah yg terjadi sekarang …
pembelajaran utk meningkatkan harkat hidup masyarakat kita
September 18, 2008 pukul 1:03 pm |
Sedih mengetahui berita seperti ini.
Andai semua orang ‘mampu’ di Indonesia ini mau untuk melaksanakan kewajibannya, dg mengeluarkan bahagian dr hartanya yg merupakan hak org miskin, kemungkinan masalah kemiskinan dpt teratasi. Selain wajib pajak, jg hrs wajib zakat.
September 18, 2008 pukul 3:20 pm |
Sebenernya kalo yang bagi zakat itu sedikit lebih bijak, zakat nya akan dibagi dan dikirimkan sendiri ke yang membutuhkan, bukan malah mengundang begini… semoga niat awalnya gak ada riya’ nya…dan semoga yang berpulang selalu dalam naungan nikmat-Nya…
September 18, 2008 pukul 3:33 pm |
miris melihtanya…. menurut saya bukan karena 30 ribunya… tapi memang 30 ribu bagi mereka itu sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaatlah berharga… berbeda dengan orang yang sudah mampu yang memandang 30ribu itu tak ada artinya… itu menandakan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi.
September 19, 2008 pukul 7:58 am |
Hal ini menunjukan bahwa memang kehidupan rakyat Indonesia saat ini tambah menurun, dan terus menurun. harus ada jalan dan gerakan yang tegas untuk mendobrak kondisi ini.
Semoga masa itu segera tiba.
September 19, 2008 pukul 1:19 pm |
Tragedi ini adalah potret kemiskinan yang sangat nyata. Yang lebih menyedihkan, di sisi lain kita melihat para pejabat melakukan korupsi secara berjamaah. Penangkapan-penangkapan yang dilakukan KPK ternyta sama sekali tidak membuat para koruptor kapok. Mereka hanya ‘lebih hati-hati’. Sangat sulit untuk memberantas korupsi di negeri ini, karena hampir semua pemegang jabatan terlibat. Dari mana perbaikan harus dimulai?
September 21, 2008 pukul 6:29 pm |
Inalillahi wa’innailaihiroojiuun
berzakat akan lebih berarti jika yang memberikannya “turun langsung ke masyarakat”, bukannya tetap di singgasananya (mendatangi, bukan mengundang)
September 24, 2008 pukul 8:51 pm |
Innalillahi ..
Niat baik yang berakhir buruk ya ..
Oktober 21, 2008 pukul 6:42 am |
kok nggak yakin ya…kalo ada niat baik…
lha, makanya serahin aja ama lembaga zakat yang kredibel biar lebih efektif dan berdaya!
Oktober 22, 2008 pukul 10:45 am |
suruh ngurusi amil,… BERESSSS